Selamat Jalan, Lentera Inspirasi Ku


Innalillahi wa innailaihi rojiun….

Kalimat istirja tersebut saia ucapkan sesaat berita duka itu terbaca di percakapan grup keluarga besar.

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”.

Tetiba rasa hangat menyengat kedua pipi, dan sejurus kemudian, isak tangisku membuncah tanpa bisa kutahan lagi.

Kembali kubaca nama lengkap di pengumuman berita duka ini, hati berharap mata ini salah membaca nama yang tersemat dalam untaian doa tersebut, namun takdir Allah SWT untuk beliau sudah tiba di hari ini.

Pada hari Jumat, 01 Mei 2026, Beliau meninggalkan nama baiknya di dunia ini untuk memenuhi panggilan Allah SWT melanjutkan hidup di alam yang berbeda. Tugasnya di dunia sudah selesai dan rejeki di dunia telah genap dimilikinya. Ya, Rejeki bukan soal materi, rejeki memiliki makna yang meluas dan mendalam.

Selamat Jalan, Lentera Inspirasi Ku

Ingatan saia melayang jauh kebelakang, kurang lebih 23 tahun yang lalu, pada seorang gadis remaja yang bisa dibilang sedang hilang arah, tak tau akan melangkahkan kaki kemana selepas menyelesaikan pendidikan menengah atas. Ya, jikalau remaja lainnya banyak yang memiliki impian ini impian itu selepas menanggalkan seragam putih abu abu tetapi tidak demikian dengan saia, saia tidak memiliki harapan apapun atau impian apapun. Hanya memenuhi tuntutan dari orang tua saja, selepas memakai seragam putih abu abu ya harus menyandang status sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi.

Saia setuju sekali dengan tuntutan itu, akan tetapi untuk menentukan jurusan apa yang diambil ya tentu saja saia tidak ada bayangan wkwkwk parah sekali. Pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) semakin dekat, sebenarnya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas saia sudah mencerna beberapa jurusan sambil berdiskusi dengan teman teman. Saia tertarik dengan klasifikasi jurusan sesuai dengan passing grade nya, tolok ukur sebuah jurusan tersebut berada di posisi mana dalam perguruan tinggi tersebut.

Ya, meskipun banyak variabel penentuan tetapi patokan keren dalam pemilihan sebuah jurusan di perguruan tinggi kala itu adalah passing grade. Dari beberapa jurusan ternama, yang tentu saja memiliki passing grade tinggi, tentu saja banyak yang berlomba lomba memperebutkan satu bangku dalam jurusan itu. Sebut saja jurusan kedokteran, hukum, akuntansi, informatika, elektro, desain grafis, arsitektur, dan masih banyak yang lainnya di berbagai perguruan tinggi. Begitu bukan wahai sodara sodara hehe.

Pembahasan perkara passing grade ini bergaung hebat sekali, pemilihannya pun tak bisa sembarangan karena menyangkut masa depan. Masa depanmu ditentukan SEKARANG. Ya meskipun boleh mengikuti UMPTN lagi tapi kan kudu nunggu tahun berikutnya, sayang sekali katanya membuang waktu satu tahun itu.

Latar belakang saia di SMA yakni kelompok IPA, oh keren sekali kan ya wkwkwk, maka dari itu saia memilih program studi eksakta daripada IPC (campuran) yang memungkinkan lebih banyak jurusan yang bisa dipilih. Big NO. Selain harga formulirnya jelas lebih mahal ya hihihi.

Balik lagi ya, capcipcup kembang kuncup… mau pilih jurusan apa, yang tergolong program studi eksakta. Pucing pala queen rek wkwkwk. Namun dikarenakan saia memiliki keinginan kuat untuk menimba ilmu lebih lanjut di perguruan tinggi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau biasa disingkat ITS, maka tentu saja saia memilih jurusan di ITS yang memiliki passing grade paling minimal. Hemmm Luarbiasa kan strategi saia hahaha, strategi atau putus asa agak mirip ya di sikon saia ini.

Dengan langkah optimis saia memegang teguh pilihan capcipcup itu, yakin pasti gak lulus wkwkwk. Bayangin seberapa pesimis saia memandang masa depan kala itu, gak punya harapan tinggi. Lalu…

Lalu, tiba tiba orangtua saia mengajak bertandang ke rumah keluarga di Surabaya, saia mah iyah iyah aja hehe.

Sesampainya disana, diperkenalkan lah saia dengan saudara yang ber profesi sebagai dosen di ITS, perguruan tinggi yang saia idamkan. Ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal, lalu terdengar nasihat bijak penuh makna dari beliau.

“Kamu itu harus berani bermimpi, punya cita cita setinggi tingginya, dan harus berani bersaing dengan banyak orang.!” ujar beliau menasehati saia.

“Jangan kamu menyerah dulu sebelum berjuang, pilih jurusan dengan passing grade tertinggi, klo pun tidak lulus, minimal sudah berani menunjukkan kemampuan diri. Tantang diri di kesempatan lain.!” Lanjut beliau dengan berapi api.

“Pengen masuk jurusan apa? Suka kegiatan apa? Pilih sesuai yang kamu inginkan, gak usah kuatir gagal, besok besok coba lagi.” Tajam beliau menanamkan pemahaman dalam mindset saia.

Diam seribu bahasa saia mendengar nasihat nasihat tersebut, lama saia terdiam merenungkan kalimat kalimat penyemangat itu. Saia hanya mampu berkata, “Iyah mas, nanti saia telusuri lagi jurusan jurusan yang saia inginkan meski passing grade nya tinggi.” Janji saia kepada beliau.

Dan Gila nya, saia penuhi dong janji saia kala itu. Ketika UMPTN berlangsung, saia memilih jurusan paling keren (menurut saia) di ITS, 2 pilihan jurusan eksakta saia labuhkan di ITS semua, PEDE banget saia waktu itu guys hehe.

And the Result is… Tentu saja saia gak lulus ahahahaha tapi rasa pede dan bangga masih kerasa sampe sekarang hihi.

Ajaibnya… sejak saat itu, saia mulai berpikir matang tentang masa depan. Sedikit melunturkan rasa tidak percaya dalam diri, mulai berani menantang diri sendiri, mulai berani bermimpi seperti kebanyakan orang, mulai belajar memperhitungkan segala hal terutama tentang konsekuensi dalam hidup dan kehidupan ini. Saia harus berterimakasih kepada beliau kan ya 🙂

Terimakasih Mas Titon Dutono, atas segala keajaiban dalam hidup saia karena sangat mempercayai nasihat bijak kala itu.

Mas Titon, begitu saia memanggil beliau. Silsilah dalam keluarga kami, saia dan beliau ada dalam satu garis generasi, generasi ke empat dalam silsilah keluarga hadiwijayan.

Pertemuan kami berikutnya jelas terjadi dalam pertemuan keluarga besar, itupun tak selalu kami berjumpa karena kesibukan beliau yang luar biasa. Ketika beliau menduduki peran penting dalam kementerian baru kala itu, sosok beliau sangat saia kagumi hingga saia bersemangat sekali mengikuti tes demi tes CPNS. Meskipun jelas CPNS ini tuntutan berikutnya dari orangtua but dont worry, saia sudah memiliki role model. Hakuna Matata!

Time flies…. Kami berjumpa di pertemuan keluarga besar hadiwijayan, di usia saia yang sudah matang sekali hehe. Kami berbincang panjang membahas hal hal terkini, dan beliau menyelipkan nasihatnya lagi di perbincangan siang itu. “Dipersiapkan diri dan mentalnya lagi buat naik level, nanti di usia XX sudah pasti siap menerima dan menjalankan amanah yang lebih besar lagi, harus berani ya!.” tegas beliau meyakinkan saia. Satu lagi suntikan semangat membara dari beliau.

Saia bersyukur sekali memiliki role model tangguh seperti beliau. Seorang Guru Besar, Sosok yang sangat peduli dengan pendidikan hingga akhir hayatnya. Apa jadinya saia ketika kala itu tidak berjumpa dengan beliau, gak bisa dibayangkan nasib saia sekarang ya hiks. Sekali lagi, terimakasih banyak mas titon atas petuah hidupnya yang masih hidup dalam jiwa saia.

Pada hari Jumat 01 Mei 2026, saia peluk erat ibu nya mas titon sembari menyampaikan duka saia yang teramat dalam, jenazah disholatkan bersamaan sholat jumat di dekat rumah duka dan akan diberangkatkan ke pemakaman di keputih setelah pelepasan penghormatan terakhir yang dilaksanakan di kampus.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa dosa beliau dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisiNYA.

Selamat Jalan Mas Titon Dutono, Lentera Inspirasi Ku…

Leave a comment