Akibat Tergiur Blue Fire Kawah Ijen


Akibat Tergiur Blue Fire Kawah Ijen.

Ibu : “Mbak nanti malam naek ke kawah ijen yuk liat blue fire.”

Saia : (melongo) “Klo kawah ijen tau tapi klo blue fire itu apa?”

Ibu : “Itu tempatnya di kawah ijen mbak, kawahnya yang panas itu klo kena embun warnanya jadi biru. Bagus banget loh, cuman ada dua di dunia”

Saia : (berpikir keras) “oooow gitu, Emmm gimana baeknya yak?!”

Ibu : “Udah ikut aja ya mbak, gak susah kok jalannya kayak jalan biasanya aja.”

Saia : (tengok kanan kiri semuanya setuju) “Emmm iyah deh bu.”

Percakapan hangat diatas terjadi sesaat setelah rombongan tim baru menginjakkan kaki di bumi blambangan, Banyuwangi. Perjalanan panjang sejauh 310 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam menggunakan kendaraan roda empat menyisakan lelah sangat bagi saia. Perjalanan dinas kali ini agak sedikit dipaksakan karena sudah beberapa kali diundur dari jadwal semula, sebabnya tim yang beranggotakan 3 orang ini super duper sibuk sekali hehehe.

Meski matahari sudah terbenam sedari tadi, tugas monitoring dan evaluasi berjalan sebagaimana mestinya, mengalir layaknya aliran sungai, mengalir cerita berita dan data dua arah hingga tak terasa waktu pendakian yang ditentukan sudah berdentang. Astagaaahh gak sempat memanjakan badan secukupnya. Waktu pendakian dijadwalkanΒ  jam sebelas malam, thats the best time to walk up to see blue fire. Catat ya πŸ˜€

Di kamar, saia membongkar isi tas, sayangnya karena tak ada persiapan walhasil saia hanya memakai 3 lapis baju aja sambil komat kamit semoga cukup menahan hawa dingin. Soon, No Jacket is NEKAT hahaha.

Waktu start yang direncanakan semula molor sejam lebih, dari kota banyuwangi menuju paltuding kurang lebih 45 menit. Lumayan lah buat tidur sebentar sebelum berjuang, pikir saia, namun itu semua hanya mimpi. Sepanjang perjalanan kagak bisa tidur, yang ada saia menguatkan badan agar bisa seimbang mengikuti alur jalanan yang meliuk – liuk dan gelap. Sopirnya udah berpengalaman banget jadi udah hapal setiap lekukan tebing, untuk yang belum berpengalaman mohon banyak cari info ya karena ada tanjakan yang aduhai bikin syerem.

Sesampainya disana, hawa dingin khas pegunungan menyergap brrrr. Persiapan dulu bareng rombongan, Alhamdulilah ada yang jual kupluk rajut dan sarung tangan, ben keren koyok pendaki – pendaki ngunu iku loh hihihi.

Waktu udah menunjukkan jam dua belas malam menjelang dini hari, ketua rombongan menginstruksikan untuk segera melakukan pendakian keburu pagi ntar kelewatan liat blue fire yang konon kabarnya bagus dilihat pada jam dua pagi hingga jam lima pagi.

First, beli tiket dulu di pos. Lalu, menuju pintu gerbang start pendakian. Ternyata banyak antrian, di pos pintu gerbang ini anggota rombongan di cek sama petugas. Lebih baek berkelompok yak, inga inga πŸ˜€

Suasana malam menjelang dini hari ini begitu syahdu, gelap khas malam hanya diterangi cahaya bulan. Romantis yak πŸ˜€ Beneran loh gelap banget, itu aja udah alhamdulilah banget ada cahaya bulan. Alhamdulilah lagi cuaca mendung gak hujan, gak kebayang klo hujan. Padahal sehari sebelumnya hujan deres.

Syok. Baru beberapa meter jalan udah ngerasa pegel linu nyeri otot, apa apapun ini, saia kan masih muda belia. Cek napas ngos-ngos an banget, duuuhhh beneran loh saia masih muda belia wkwkwk. Ya Allah harus kah saia akui semua ini, makanyaa udah berapa tahun seh absen olahraga sehatin fisik hihihi.

Perbedaan kondisi fisik individu mempengaruhi proses pendakian tentunya, tak jarang saia terpisah dari rombongan. Suasana gelap gulita hanya mengandalkan cahaya bulan dan peralatan penerangan yang dibawa masing – masing. Dan yang penting untuk diingat, TAK ADA sinyal provider sedikitpun yang bisa dijumpai smartphone saia. Jadi jangan harap bisa melakukan panggilan darurat, baek – baek lah sama sesama pendaki hehehe.

Menurut si ibu, menuju kawah ijen yang berada kurang lebih dua ribu meter diatas permukaan laut bisa ditempuh dalam waktu dua jam dengan perkiraan jarak tempuh tiga kilometer. Enteng ya, jalan sepanjang tiga kilometer menghabiskan waktu dua jam saja. Normal. Namun, sayangnya kemiringan jalan yang harus dilalui berada di 25-35 derajat, syereeeemmm cyiiiinnn πŸ˜€

Udah kebayang dikit – dikit kan ya medan terjal yang harus dilalui demi menggapai sebuah impian. Gak usah kuatir, masih ada rintangan pelengkap yang melatih keseimbangan badan, kontur jalan berpasir benar – benar membuat tak bisa lengah sedikit pun. Asyiiiikkk yuk jalan lagi πŸ˜€

Jalan yang dilalui selebar daun kelor, gak gede banget kayak jalan protokol ibukota. Jadi, kalo jalan gak boleh seenak sendiri, musti tau kapan harus mempersilahkan pendaki laen untuk lewat terlebih dahulu, klo ada penambang belerang ya jangan sungkan kasih mereka jalan duluan, berat cyiiiinn beban yang mereka pikul. Ato pas lagi berhenti istirahat ya jangan ngabisin jalan hehehe.

Masker juga jadi peralatan penting banget yang harus dibawa ketika mendaki ke gunung ijen ini. Karena apa? Karena ini gunung berapi yang masih aktif dan pada ketinggian tertentu bau belerang mulai terasa sangat pekat. Apalagi ya guide tak bosan mengingatkan para pendaki untuk aware sama diri, pastikan bawa masker beneran BUKAN sekedar masker anti debu biasa.

Saia sukses dagdigdug, cuman bawa masker anti debu yang biasa dipake pas lagi flu. Trus ditambah cerita kalo beberapa hari yang lalu ada pendaki yang meninggal diatas karena sesak napas, gak aware sama diri kalo sudah terlalu lelah dan ngeremehin pentingnya masker. Menceloooss hati ini tapi tetep maksa naik, nanggung.

Dan benar saja, di ketinggian kurang lebih seribu lima ratus meter diatas permukaan laut, bau belerang mulai menusuk hidung dan temperatur makin mendekati lima derajat celcius, hawa dingin bener – bener menusuk sampe ke persendian tulang, dingin bangeettt. Alhamdulillah ya masker yang saia kenakan gak ngefek blas menghalau bau belerang, seketika batuk hebat tak berkesudahan. Alhamdulillah ada yang nyewain masker respirator, mulai agak tenang tapi butuh adaptasi juga pake nya.

Beberapa puluh menit kemudian….

Taraaaaaa…. waktu menunjukkan jam tiga pagi. Akhirnya sampai di puncak juga, tolah toleh pandangan kabur, gak jelas. Entah kabut atau gas belerang pokoknya mata saia gak leluasa memandang sekitar. Kondisi ini sempat membuat saia kebingungan, gelap ditambah keliatannya banyak asap plus tiba – tiba badan saia tak kuasa menahan hawa dingin. Turun ke bawah dikit, ada pembatas tebing, dari situ keliatan blue fire di kejauhan sana.

Saia putus asa, untuk menyaksikan fenomena alam yang namanya blue fire ini masih harus turun kebawah, ke kawah ijen yang kurang lebih dua kilometer lagi melalui jalan setapak khas pegunungan. Ampuuunn, nyerah saia. Gak mauuuuuuu :((

Saia duduk diantara bebatuan karena susah nyari tempat duduk yang nyaman. Sepuluh menit kemudian badan saia mulai mengirimkan sinyal darurat, ibarat ultraman tuh lampu warna merah di dadanya udah kedip – kedip gitu. Yess, fisik saia sudah mulai gak bisa menahan hawa dingin yang menusuk, mulut saia mulai bergetar menggigil hebat. What happen to me?

Kalut. Meski masker gak lepas sedikitpun tapi nyatanya saia mulai merasa sesak napas, batuk hebat kembali mendera, badan menggigil hebat. “Ya Allah mosok aku mati disini.”, “Ya Allah aku sudah janji sama anakku, gimana dunk.”,”Ya Allah tolooonng.” dan banyak lagi perang batin saia. Hanya satu yang saia ingat, otak harus berpikir secepat mungkin gimana caranya saia harus bertahan hidup. Saia harus turun gunung SEKARANG JUGA.

Tim rombongan baru nyampe beberapa menit, mereka juga kelelahan dan berniat sekalian nungguin sunrise. Akhirnya disarankan untuk sewa jasa “taksi istimewa”, yup karena badan saia udah gak mungkin bergerak banyak. Pelaku jasa “taksi istimewa” ini adalah penambang belerang. Kadang ketika mereka hendak naik sekalian menawarkan jasanya untuk yang kelelahan, sepaket naek turun juga bisa.

Jasa mereka sangat membantu saia. Tarifnya juga wajar sesuai kerja keras mereka melayani penumpangnya dengan medan yang begitu terjal. Mereka juga berdedikasi pada keselamatan penumpangnya. Tarif sekali naik dari bawah keatas dipatok lima ratus ribu rupiah, sedangkan tarif turun kebawah hanya dua ratus lima puluh ribu rupiah saja. Percayalah, gak usah ditawar lagi ya, bagi saia tarif segitu udah wajar.

Meski udah naek “taksi istimewa”, badan saia makin menggigil, yaiyalah enggak gerak gimana bisa anget badannya. Untungnya diketinggian yang saia enggak tau berapanya, ada warung kecil yang menyediakan minuman hangat dan makanan cepat saji. Warung itu emang dijadikan peristirahatan para pendaki maupun penambang belerang. Gak pake lama, saia meminta ijin untuk istirahat disitu dalam waktu lama. Pesan minum teh panas, yang dalam jangka waktu sebentar udah gak panas saking dinginnya hawa disitu.

Warung sepi, hanya ada bapak penjual dan satu orang pria yang numpang tidur rebahan di bangku panjang warung. Wah boleh dicontoh ni, saia pun merapatkan badan ke meja dan menopangkan kepala ke lipatan tangan di meja, Zzzzzzzzz…….

Saia terbangun ketika mendengar suara teman yang menggelegar, astagaaah fajar sudah menyingsing ternyata diluar sana. Alhamdulillah kondisi badan saia udah membaik, masih dingin tapi gak kronis kayak sebelumnya. Teman saia bercerita begitu berat perjuangannya turun karena kontur jalan berpasir membuatnya harus menyeimbangkan badan dulu sebelum memulai langkah berikutnya apalagi katanya faktor U juga turut mempengaruhi hehehe.

img-20170127-wa0009

Dua embak-embak itu lagi istirahat juga, diajakin kenalan sama bapak-bapak ini hahaha

Oke yak, kontrak saia sama “taksi istimewa” masih berlanjut, jadiiii mari qta menuruni gunung ijen ini dengan bahagia hihihi. Matahari sudah terbit dengan lembutnya, kabut tipis masih menyelimuti. Aduhaiiii cantik banget loh pemandangannya, sayangnya tangan saia masih terasa dingin kaku dibalik sarung tangan, kagak bisa mengabadikan ciptaan Allah SWT yang tiada duanya.

Sinar mentari menerangi pagi ini, terik tapi tak membakar kulit, adem menenangkan. Saia tetep asyiikk duduk diatas “taksi istimewa” sambil meringis ngeri – ngeri syedap kala baru benar – benar melihat dengan jelas kondisi jalan yang dilalui semalam. Allahuakbar benar – benar diuji keyakinan pada Sang Maha Kuasa.

Ketika saia turun, banyak pendaki yang baru naik. Nah disini kepedean saia diuji, sangat jarang pengguna “taksi istimewa” jadi ketika saia berpapasan dengan mereka, berbagai macam mimik muka yang ditampakkan. Awalnya saia malu, ibaratnya klo di kota berasa naek becak diantara pengendara motor dan mobil hahahaha. Namun lambat laun saia menyadari, lah kan berarti keren saia dunk, kan gak semua orang bisa menyewa jasa “taksi istimewa” hehehe maapkan sifat riya saia ini πŸ˜€

Β “Taksi istimewa” yang saia tumpangi ini ngebut loh tapi tenang aja rem nya pakem kok hehehe. Ya gimana gak ngebut, jalanannya kan menurun. Klo pas naik kan menanjak 25-35 derajat, Nah pas turun ya kebalikannya, turun makwusss di kemiringan 25-35 derajat. Waspadai cedera di bagian lutut yak.

Beberapa puluh menit kemudian….

Alhamdulillah akhirnya touch down juga dibawah, di pintu gerbang yang hanya satu – satunya. Efek “taksi Istimewa” ngebut saia rasakan kemudian, saia bingung nyari tempat bersandar sambil menanti rombongan tim. Terpilihlah warung di area parkir kendaraan, cari yang anget – anget dan mengenyangkan. Sendirian aja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling area yang sepi, satu orang bule duduk di meja sebelah sambil berselancar di dunia maya menggunakan laptopnya.

Iyah disini gak ada sinyal provider satupun tapi ada alternatif laen untuk mengatasinya, yakni tersedianya wifi di setiap warung. Jadi, order makanan sambil beli kuota wifi, puasin deh berkabar – kabar dengan handai taulan hehehe.

img-20170127-wa0010

Saia dan “Taksi Istimewa”

Kenyang. Saia mengedarkan pandangan mencari – cari sosok yang mungkin dikenal, Nihil. Untungnya driver mengenali saia yang celingukan, dan menawarkan untuk istirahat di dalam mobil sambil menanti rombongan. Gak pake lama saia pun mengiyakan, lumayan bisa santai selonjoran.

Beberapa puluh menit kemudian….

Gelagapan saia ketika orang – orang pada masuk ke mobil, rupanya saia tertidur lumayan lama hehehe. Cuzz saatnya balik ke kota, dan lagi – lagi saia terbelalak disuguhi pemandangan dan pengalaman berkendara hingga sampai tujuan. Pasang sabuk pengaman dengan baik yak πŸ˜€

Sehabis ba’da dhuhur, dengan gontai saia memanggul tas dan say goodbye pada kamar hotel yang belum sempat saia acak – acak hahaha. It’s an amazing experience, big thanks to them that introduce me to Blue Fire Kawah Ijen. Saia enggak kapok kok balik lagi kesana hehehe.

Β Butuh Tantangan? Maen ke Kawah Ijen Yuk πŸ˜‰

Advertisements

16 thoughts on “Akibat Tergiur Blue Fire Kawah Ijen

  1. Kemarin sempat nonton MTMA yg jg jalan2 kesana. Saya lihat presenternya sampek batuk2, sesak napas, gara2 bau belerang, padahal sdh pake masker yg ada moncongnya itu. Termasuk jalan2 ekstrim ini mbak 😊

  2. Wakakaka, sebelum lihat penampakan Taksi Istimewa aku udah bayangin sampean pasti naik gerobak dorong kayak ngangkut batu bata. Eh, beneerr…
    Naiknya sih asik, turunnya capek dong Mbak, badan doyong ke depan haha..
    Jadi naik turun sampean bayar hampir sejuta dong, ckck.. mayan yah.. bisa dipke ongkos ke Bali iku Mbak wkwkwk..

    • Hahahaha bwt angkut belerang ituuuuhhh. Tenang aja, meski badan doyong tetep bisa tidur kok sak sliut sak sliut πŸ˜€
      Hihihi iyoh nek jareku iso tuku tiket pesawat Sby-Jkt PP tapi iki urusane nyawa mbak πŸ˜€

  3. Baru tau ada taksi istimewa ini ,kupikir digendong hihihi. Butuh fisik yg bagus emg, itu aja pas naik ke sana jamannya aku rajin senam seminggu dua kali, hmmm kalo skrg gk kebayang. Turunannya lebih susah drpd naik, ngerem2nya itu loh errrr.

    • Hahahaha lebih syerem mbak kalo digendong. Iyah harusnya fisik dilatih dulu sedemikian rupa, ini kemaren kesalahan terindah wkwkwk. Yup, jalan turunnya lebih berat daripada pas naek, kudu ngglundung ae πŸ˜€

  4. Aku liat fenomena blue fire pas MTMA juga mbak..Wah, ternyata medannya ampun beratnya yaa…

    Hi..hi, yo wis lah..aku juga nggak yakin bisa. Faktor U juga.

    Liat via tv ato mbaca cerita jalan2 para blogger aja..☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s