[Cerita Hijab Pertamaku] Ketika Ceria Berhijab


Libur tlah tiba horee..horeee…horeeee…. πŸ˜€

Haseeekkk, libur tlah tiba dan ini waktunya saia menjalankan misi rahasia, mau tau apaan? πŸ˜€

Sejam sudah saia mematut diri didepan cermin, mengkombinasikan baju dan sehelai kain panjang persegi then voilaaaa muka bulet plus pipi tembem saia tertutup kain lebar warna cerah.

Yap, di libur perkuliahan menuju semester 3 ini saia niat untuk berhijab, menutup aurat saia yang tidak boleh dilihat selaen oleh mahram saia. Bismillah… Semoga Allah memudahkan niat hijrah saia ini.

Meski perkuliahan sedang libur tapi saia gak mau terlena gitu aja tanpa mengisi liburan panjang banget dengan hal positif misalnya belajar, eciyeeee hahaha. Iyah loh saia mengambil kursus pendek yang diadakan kampus. Ya lumayan lah buat latihan fisik dan mental perubahan saia berhijab, segitunya yak hehe.

Hari pertama kursus, saia kelamaan bongkar pasang hijab jadinya mah gagal rencana dateng ke kampus lebih awal biar bisa duduk di belakang (jangan ditiru yak hihi). Duuh telat 5 menit ni, sempet maju mundur mau buka pintu, gak ngebayangin aja apa yang ada dibalik pintu (lebay hehe). Atur nafas, tarik nafas dalam, hembuskan…. Pintu saia buka, setelah memberi salam pada dosen dengan wajah tertunduk, secepat kilat saia duduk di bangku kosong. Menyembunyikan muka dibalik monitor komputer, dan seketika plassss hati saia ngilu….

“Wah alhamdulilah ada wajah cantik dengan penampilan baru, selamat ya semoga istiqomah.” ujar bu umi lembut di sela waktu mengajar.

Iyaaahh, dosen saia yang cantik dengan hijab syar’i-nya ini menghentikan bahasan teorinya demi melihat saia yang datang telat ini dengan memakai hijab. Tuh kan makanya jangan telat tadi, sedikit mengutuk diri sendiri πŸ˜€

“Aamiin, Makasih doanya bu semoga saia istiqomah.” balas saia tersipu malu banget, dengan terpaksa mendongakkan wajah yang sedari tadi aman tersembunyi πŸ˜›

Bisa dibayangkan ya gimana reaksi teman-teman saia, ada yang tersenyum syukur, ada yang ketawa tanpa suara, ada yang ngakak tapi berusaha menahan, dan sebagainya. Huft beginilah nasib murid tersohor seantero kampus **dilempar komputer**

Diluar kelas, teman-teman melampiaskan rasa yang tertunda. Saia dicecar dengan pertanyaan dan pernyataan bak pesohor level dunia yang sedang terkena kasus gawat. Ini berita gawat memang, cerita saia berhijab dari mulut ke mulut segera melesat layaknya jet tempur, Banyak yang berbondong-bondong menemui saia di tekape memberi ucapan selamat dibalut syukur atau sekedar ketawa geli melihat perubahan muka saia yang semakin unyu-unyu nggemesin tentunya hahaha.

“Alhamdulilah selamat ya, makin cantik pake hijab.”

“Hadooohhh, wes ojok guyon, preman kok krudungan, gak pantes.”

“Loh udah selesai mentoring** kah kok pake hijab, trus kenapa masih dipake krudungnya.”

Dan seterusnya. Begitulah kebanyakan respon teman-teman saia yang baik hati πŸ™‚

**Mentoring adalah kegiatan yang diadakan oleh rohis kampus, dan sifatnya wajib karena mempengaruhi nilai matkul Agama di tahun pertama perkuliahan. Ketika mentoring, bagi perempuan diwajibkan memakai kerudung dan rok.

Semua proses transformasi ini cukup mendewasakan saia, menguji ketahanan fisik dan mental. Gak ada apa-apa nya seh jika dibandingkan perjuangan muslimah laennya untuk bisa berhijab. Ini niat tertunda saia untuk mentaati perintah Allah SWT. Iyah, saia sudah memiliki niat berhijab semenjak masih duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu. Banyak hal yang menghalangi saia saat itu namun Alhamdulilah saia bulatkan tekad juga meski banyak yang menentang.

Dalam logika saia, ini hidup saia sendiri, lalu siapakah yang akan bertanggung jawab atas dosa-dosa jika bukan saia sendiri kelak yang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Semoga kami istiqomah berhijab ya :)

Semoga kami istiqomah berhijab ya πŸ™‚

Alhamdulilah, sudah 11 tahun saia berhijab. Dan terbukti, saia tidak harus memastikan hati telah menjadi bersih terlebih dahulu sebelum berhijab karena dengan saia berhijab, saia lebih mampu menjaga diri baik dari segi perbuatan, lisan, pikiran dan hati. Segala tindak tanduk saia enggak sembarangan lagi, musti saia pikirkan dulu baik buruknya berdasarkan ajaran agama karena sekarang saia sudah berhijab. Bagi saia berlaku kebalikannya, dengan hijab maka hati saia berproses menjadi baik. Istilahnya, malu dunk sama hijab klo masih urakan ala preman manis hihihi πŸ˜€

Preman manis udah berhijab niy, klo kamu kapan? πŸ™‚

Artikel ini diikutsertakanΒ  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway”

GA hijab

Advertisements

25 thoughts on “[Cerita Hijab Pertamaku] Ketika Ceria Berhijab

  1. preman maniiiiiiiisss… hahaha… smoga istiqomah teruuuuss… aamiin

    aku mulai berhijab lulus kuliah mba ce. waktu itu nadzar, lulus kuliah, nikah, dapat kerja lgsg berhijab.. alhamdulillah semua dilancarkan dan barengan dapat ketiganya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s